Ads 468x60px

Sample text

Sample Text


2013-02-19

Trofi Untuk Mama


Tak ada gading yang tak retak, tak ada hati yang tak terkoyak. Mungkin peribahasa inilah yang tepat untuk mendefinisikan betapa aku merasa bersalah pada sosok yang telah melahirkan anak durjana sepertiku. Bahkan lebih dari itu, benar-benar aku adalah anak yang tidak tau diri akan siapa siapaku. Masih basah dalam ingatanku akan khilaf yang teramat sangat kusesali. Saat itu usiaku masih 14 tahun. Kondisi remaja yang sering orang sebut ‘ababil’, yakni ABG labil.

Saat itu aku masih kelas IX. Aku diterima di sekolah favorit karena prestasiku. Mati-matian aku belajar agar aku dapat mempertahankan predikat ‘orang pintar’nya sekolahku. Namun tentu tak semudah yang di bayangkan. Ratusan siswa yang berkompetisi dapat dengan mudah ku kalahkan, tapi emosi dan egoisme dalam diriku sendiri yang sebenarnya yang menjadi pesaing terbesar dalam hidupku.
Mamaku adalah penjual gado-gado dan es pisang hijau di sebuah Taman Kanak-kanak di Desaku. Papaku adalah seorang buruh tani yang setiap hari bergumul dengan lumpur. Setiap pagi papa dan mama bangun jam 3 pagi untuk mempersiapkan barang dagangan dan tentu menyiapkan makan untuk kami. Pukul 5 pagi, aku bangun dan mengerjakan tugas sehari-hariku untuk menyapu, menyiapkan pakaian adikku dan belajar dulu sebelum ke sekolah. Setengah 6 pagi, papa mengantar dagangan mama ke kantin yang disewa didepan rumah salah seorang guru TK tempat mama berjualan.

Tak lama kemudian mama menyusul papa ke kantin dan membawa beberapa buah lontong yang tidak sempat dibawa oleh papa. Kemudian aku bangunkan adikku, sedang aku bersiap-siap untuk mengemas perlengkapan sekolahku. Sekolahku cukup jauh dari rumah. 30 menit perjalanan naik kendaraan umum. Tentu aku berangkat ke sekolah setelah menyelesaikan tugasku mengurus adikku satu-satunya yang teramat sangat aku cintai. Tepat pukul 6.30 handphone bututku berbunyi, ternyata telpon dari mama.
“Nak tolong antarkan santan yang mama taruh di toples bening yang tutupnya merah. Mama lupa membawanya. Papamu baru saja pulang, jadi tidak mungkin mama minta tolong papa” ucap mamaku gusar.
“Aduh mamaaa, ini sudah setengah tujuh ma. Nanti aku terlambat!” balasku dengan ketus.
“Mama minta tolong nak… mama janji deh, nanti uang jajannya mama tambahin” Timpal mama membujukku.

“Arrrrgghhtt mamaaa, iya-iya aku antarkan. Apalagi yang kelupaan? Nanti biar Syifa gak bolak balik lagi. Syifa telat nih ma” jawabku mengiyakan dengan nada kesal.
“Tidak ada sayang, Cuma itu kok. Terimakasih ya nak” tutur mamaku lembut.
Pembicaraan itu pun ku akhiri dengan menutup teleponku.
“Huh, mama ini ada-ada saja. Lupa atau gimana sih kalau hari ini hari senin? Kalau upacara bendera kan datangnya harus lebih pagi. Mana kelasku yang bertugas lagi. Arrrrrgghht! Benar-benar bikin naik darah.” Gerutuku dalam hati.

Aku mengambil santan yang telah disiapkan mama. Santan itu ternyata masih panas. Aku menutup toples bening itu dan memasukkannya ke dalam tas jinjing yang biasa dipakai mama berbelanja. Dengan sepeda butut peninggalan almarhum opa, ku antarkan santan itu ke tempat mama berjualan. Nasib naas menimpaku. Ditengah perjalanan sepeda butut itu tak dapat ku kayuh, rantainya terlepas, dan tas yang ku jinjing terjatuh. Beruntung toplesnya tidak pecah. Tapi karena santan itu tadinya masih panas, jadi tidak kututup rapat penutupnya. Santannya tumpah-tumpah membasahi seragam dan sepatuku. Sial! Santannya sisa sedikit. Tak mungkin aku pulang dan membuatnya lagi. Tapi rasanya tak mungkin juga untuk mengantarnya ke tempat mama. Tapi sudah kepalang tanggung, akhirnya kuputuskan untuk mengantarnya saja ke tempat mama. Aku juga sudah dikejar waktu. Pikirku.

Sesampainya ditempat mama, aku menjelaskan apa yang baru saja menimpaku. Mama yang sedang sibuk melayani pembeli sempat memarahiku. Katanya aku ceroboh sekali, lalu dengan santan yang kira-kira tinggal satu gelas itu mau di pakai apa? Mana cukup untuk racikan sebakul pisang hijau? Ahh aku masa bodoh saja. Aku langsung kabur dan mengayuh sepeda butut yang telah membawa sial tadi.
Sesampainya dirumah, aku segera berganti pakaian dan buru-buru berangkat sekolah. Angkot yang biasa kutumpangi ternyata sudah berangkat. Kulihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 7.30. “Duhh! Sial betul nasibku hari ini” Ungkapku kesal. Sudah setengah jam aku menunnggu dihalte, tapi tak satupun angkutan umum yang lewat. Kuputuskan untuk berjalan kaki saja. Meskipun sepertinya mustahil, tapi aku terus berjalan. Aku tak mau seharipun melewatkan jam pelajaranku. Aku sangat menghargai ilmu pengetahuan. Diperjalanan aku berjumpa dengan guru matematika, aku ditawari untuk naik motornya. Aku menerima tawarannya dan menjelaskan mengapa aku terlambat. Guru itu mengerti dan menjelaskan kepada guru BK perihal yang ku alami. Dengan penjelasan itu aku diizinkan untuk masuk kelas dan mengikuti proses belajar mengajar seperti biasanya.

Namun ternyata tidak sampai disitu saja aku diproses. Wali kelasku mengadakan briving dan mengabsen siswa-siswa yang tidak menjalankan tugasnya saat upacara bendera tadi. Barang tentu ibu guru memanggil namaku. Aku tidak sendiri, ada lima orang lagi yang namanya disebut. Kami dihukum untuk membersihkan toilet sekolah yang jumlahnya ada 20. Aku benar-benar mengutuk apa yang terjadi hari itu. Meskipun kesal, tapi tak mungkin hukuman ini ditinggalkan. Kami menyelesaikan tugas itu dan segera masuk kelas.
Pada jam pelajaran terakhir adalah pelajaran biologi. Pak lukman masuk dan mengkoordinir siswa untuk mengumpul tugasnya. Aku pun membuka tas dan mengambil buku tugasku. Tapi buku itu tak kutemukan. “Sial! Pasti tertinggal dirumah” pikirku. Pak Lukman menghukumku karena dianggap lalai dan tidak mengerjakan tugas. Aku dikeluarkan dari kelas. Ini adalah pertama kalinya aku dibuat malu. Kesialan yang bertubi-tubi ini kemudian ku kembalikan pada mamaku. Andai saja tadi pagi aku tak mengantar santan itu, pasti aku tidak terlambat. Aku juga tidak akan dihukum karena tidak mengikuti upacara. Tugasku juga tak akan kulalaikan. Semua ini gara-gara Mama. Andai tadi Mama tidak lupa membawa santan, pasti tidak akan begini jadinya.

Tepat pukul 1.45 jam pelajaran berakhir. Tapi demi menaklukkan UAN, kami harus mengikuti pelajaran tambahan. Les nya dimulai pukul 3 sore. Sambil menunggu aku baringkan badan dikursi panjang yang ada ditaman sekolah. Hawanya sejuk sekali, mataku seakan dibelai-belai, sehingga tak terasa aku tertidur. Tiba-tiba aku terbangun. Bukan karena ada yang membangunkan, tapi karena perutku mulai terasa lapar. Aku baru ingat, sedari pagi tadi belum ada sesendok pun makanan yang ku telan. Segera ku periksa saku bajuku, ternyata tidak ada uang. Kuperiksa lagi kantong seragamku, tak kutemukan juga. Ku ingat-ingat lagi, tadi pagi Mama belum sempat memberikanku uang saku tambahan. Tapi seingatku, uang saku yang sebelumnya masih ada dikantongku. Ku periksa lagi tas dan membongkar isinya, tapi masih tak kutemukan juga. “Oh tidak, mungkin terjatuh saat aku membersihkan toilet tadi!” gumamku. Perutku benar-benar lapar. Gesekan-gesekan didalamnya menuntut untuk segera diisi ulang. Tapi tak bisa kupenuhi. Kuputuskan untuk puasa sekalian, tohh aku sudah terbiasa dengan itu.

Alhamdulillah aku bisa bertahan sampai pelajaran tambahan selesai. Kemudian aku pulang ‘nebeng’ motor salah seorang teman. Aku tiba dirumah pukul 4.10. lantas aku segera menyelesaikan tugasku untuk mencuci tumpukan piring dan perabotan rumah tangga yang belepotan dengan arang-arang dapur, dan mencuci gunungan pakaian kotor seluruh keluargaku. Selepas itu aku menjemput Mama dan mengemasi sisa-sisa dagangannya. Aku masih kesal dengan Mama perihal persoalan santan tadi pagi. Aku tetap melakukan rutinitasku seperti biasanya, namun mulutku terkunci rapat-rapat dan tidak sepatah kata pun keluar darinya.
Mama menceritakan bahwa dagangannya tidak habis terjual. Pisang hijaunya hanya laku 2 porsi saja, sedang gado-gadonya hanya laku tadi pagi ketika aku baru saja datang. Itupun hanya 5 porsi. Mama menceritakan ada bangkai anjing dibawah selokan, jadi pelanggannya merasa risih untuk makan. Aku masih diam tanpa kata. Mama menangkap gelagatku yang sedang marah. Mama meminta maaf padaku atas persoalan santan tadi pagi. Aku masih saja diam. Lalu aku pulang dengan membawa sebagian sisa dagangan Mama dan meninggalkan Mama begitu saja. Jujur, meskipun aku marah dan kesal pada Mama, tapi aku tidak tega membiarkannya melakukan pekerjaan itu sendirian.

Di perjalanan pulang aku menangis, betapa hari ini kesialan-kesialan itu bertubi-tubi menghujani ku. Tapi aku masih belum bisa memaafkan Mama. Sesampainya dirumah, aku segera mencuci perabotan kotor yang tersisa dan bertekad menyelesaikannya sebelum Mama pulang. Sebab aku sedang tak ingin bertemu dengan Mama. Sesudahnnya, aku membaca buku pelajarannku yang kulewatkan tadi siang. Kudengar sepeda butut Mama yang sudah reot itu disandarkan dibelakang rumah. Aku tahu pasti, Mama sudah pulang. Mama segera mandi dan berbenah. Setiap hari senin sore, Mama mengikuti pengajian di surau dekat rumah. Mama berpamitan padaku, tapi aku masih saja diam. Selama Mama pergi, aku terus belajar dan mengurung diri dikamar. Bukan apa-apa, hari ini aku tertinggal pelajaran penting. Jadi aku harus belajar sendiri untuk mengejar ketertinggalan itu. Menjelang maghrib Mama pulang, disusul dengan papa yang belepotan lumpur, dan adikku yang baru saja pulang dari Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA). Aku masih menguncikan kamarku.

Ketika hendak melaksanakan sholat maghrib, aku membuka kunci kamarku dan segera mengambil air wudhu. Selepas itu rasanya mataku berkunang-kunang, penglihatanku mulai suram, kakiku bergetar tak sanggup menopang badanku sendiri. Aku terjatuh dan tidak sadarkan diri seketika.
Ketika aku tersadar, aku sudah berada di tempat tidur ditemani Mama dan papa. Badanku demam, wajahku pucat dan rasanya tulang-belulangku seakan hendak terlepas dari kerangkanya. Sakit sekali rasanya. Mama mengompresku sedang papa memijat-mijat kakiku. Aku ditutup selimut tebal. Mama membetulkan selimut yang sedikit terbuka, aku cuek saja. Mama berusaha menyuapiku, namun aku memalingkan wajah dan masih membisu dari Mama. Pokoknya aku kesal sekali dengan Mama. Ku lihat Mama meneteskan air matanya, tapi egoku masih tak bisa menerimanya. Papa mengerti aku sedang marah besar, papa tidak banyak bertanya dan mengambil alih untuk menyuapiku.

“Syifa sayang, ingat tidak waktu kamu kecil dulu. Waktu usia kamu kira-kira masih 4 tahun. Waktu itu Syifa minta sama papa boneka susan, tapi papa gak punya uang. Terus Mama jual deh cincin Mama buat beliin boneka susan. Terus habis itu, Syifa banyak maunya lagi. Minta susu lah, minta jajanlah, minta di beliin Es cendol bibi imah lah, padahal waktu itu Mama baru pulang dari sawah. Mama capeek banget. Mama masih belepotan lumpur dan masih bau keringat. Tapi dasar Syifanya bandel, yah Mama tetap menuruti permintaan syifa dengan senang hati. Hehehehe…” ungkap papa sambil terbahak-bahak.
Aku hanya diam mendengarkan sambil mengunyah makananku.

“Oh iya nak, ingat tidak? Dulu waktu Mama masih jadi buruh tanam padi, Mama kalau pulang selalu bawain Syifa kue yang dari sawah. Apalagi kalau kuenya bolu kukus, wahhh pasti sama Mama di bawa pulang terus dikasih Syifa semua deh” tutur papa sambil menyuapiku lag.

“Oh ya nak, tadikan mamamu ke pengajian. Kata Mama ada yang bawa kue bolu kukus loh. Terus Mama bawa pulang deh. Tuhh ada di piring diatas meja. Kamu mau gak?” jelas papa menerangkan

Aku menggelengkan kepala dan memalingkan wajahku. Aku menyesal menyalahkan Mama atas kasialanku hari ini. Aku mengutuk diriku sendiri karena telah mendurhakai Mama. Mama baru sekali saja meminta bantuanku, aku sudah merasa direpotkan. Sedang Mama yang kurepotkan seumur hidupku tidak pernah merasa demikian. Lantas aku turun dari ranjang dan mencari Mama. Kutemukan Mama didapur dan memeluknya erat-erat.

“Syifa minta maaf ma, Syifa sudah durhaka sama Mama. Syifa jahat sama Mama. Maafin Syifa yah ma…” Pintaku sambil terisak.
“Iya sayang, Mama juga minta maaf yah sudah buat Syifa marah.” Jawab mamaku lembut.
Aku tak melepaskan pelukan mamaku. Malamnya kami tidur berempat dikamarku. Aku di apit kedua orang tuaku dan juga adikku. Paginya aku tidak ke sekolah, Mama tidak mengijinkanku untuk pergi. Mama juga tak berjualan hari ini, papa juga tidak bekerja.
“Mama kok gak jualan? Papa juga kok gak kerja?” tanyaku tak mengerti.
“Mama gak punya modal untuk jualan lagi nak. Kemarin kan dagangan Mama gak habis. Jadi Mama gak bisa jualan.” Jawab Mama menjelaskan.
“terus papa?” tanyaku lagi.
“Papa dipecat nak. Juragan bangkrut, jadi banyak buruhh yang diberhentikan.” Jawab papaku pilu.
“Yahh kalau Mama gak jualan, papa gak kerja, terus kita makannya gimana? Sekolah aku sama adek gimana ma?” Jawabku mulai terisak.
“Tenang sayang, ada Allah tempat meminta. Allah satu-satunya yang memberikan kita reski. Jadi Syifa tiak usah khawatir soal itu ya sayang.” Ungkap mamaku menenangkan sambil memelukku.
Aku menghabiskan waktu absenku hari ini untuk membaca. Dari pada aku hanya tiduran dan waktuku habis sia-sia, lebih baik seperti ini. Toh ada ilmu yang ku dapat. Saat aku sedang duduk santai sambil membaca buku, handphone bututku bordering. Ternyata wali kelas yang menghubungiku. Ibu guru memberitahukan bahwa aku terpilih sebagai peserta Olimpiade Sains Nasional (OSN) untuk mata pelajaran geografi. Aku senang sekali, akhirnya aku dapat mengikuti kompetisi paling bergengsi ini. Ku beri tahu Mama dan papa. Mereka pun senang dan bahagia mendengarnya. Mereka semakin semangat bekerja, Mama pun kembali berjualan. Setiap hari Mama sisihkan uang untuk membelikan buku-buku referensi yang harganya lumayan mahal. Mama sangat mendukungku. Aku semakin terpacu untuk belajar lebih giat.
Akhirnya waktu yang dinantikan datang juga, pertengahan pebruari kompetisi Olimpiade Sains Nasional itu dimulai. Dengan bekal ridho Mama dan papa serta berbagai persiapan yang telah kulakukan, aku mantap memasuki ruang ujian. Mama menungguku di luar ruangan. Meskipun jumlah soal lebih 100 nomor dan memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi, aku tetap tenang mengerjakannya. Saat bel berbunyi pertanda waktu telah selesai, aku masih mengerjakan sekitar 59 soal. Berat hati aku mengumpulkan lembar jawabanku, namun itulah kemampuanku.

Aku segera keluar ruangan dan menemui Mama yang sedang berbincang-bincang dengan guru pembimbingku. Aku berlari dan memeluk Mama erat sekali.
“Gimana soal-soalnya nak? Bisa dikerjakan kan?” Tanya Mama.
Sambil menggelengkan kepala ku katakan, “Tidak ma, soalnya lebih seratus nomor. Syifa Cuma bisa kerjakan 59” Jawabku terisak.

“Tidak masalah sayang, yang penting Syifa yakin kalau yang Syifa jawab tadi benar. Syifa harus optimis dan yakin dengan jawaban Syifa. Mau jadi juara atau tidak, Syifa tetap anak terhebat buat Mama. Syifa selalu jadi juara buat Mama” Ungkap Mama meredakan.
“Betul itu Syifa, kamu harus yakin atas apa yang kamu lakukan. Kita kan sudah berikhtiar, sekarang tinggal Tuhan yang menentukan.” Ungkap guru pembimbingku menimpali.
“Iya pak. Terimakasih sudah mensupport saya.” Jawabku seperlunya.
Kami pun pulang menuju tempat tinggal masing-masing. Aku bersama mamaku menaiki angkutan umum sampai kerumah kami. Hari itu berakhir sangat melelahkan sekali.

Satu bulan kemudian, saat aku sedang mengerjakan tugas fisika bersama teman-temanku di gazebo sekolah. Terdengar suara microphone menggema menyebut beberapa nama. Namaku muncul sebagai salah satunya. Nama-nama yang sudah dipanggil tadi di perintahkan untuk menghadap ke ruangan kepala sekolah. Aku dan Rara dinyatakan lolos ke babak selanjutnya. Kami langsung dibawa ke kantor dinas pendidikan untuk mengambil trofi dan piagam penghargaan. Kepala sekolah juga memberi kami hadiah berupa beasiswa karena telah mengahrumkan nama sekolah. Kami di ijinkan pulang lebih awal. Aku senang sekali dan buru-buru ingin bertemu Mama. Aku ingin sekali menunjukkan trofi ini ke Mama. Bagiku trofi ini bukan hanya hasil kerja kerasku, melainkan usaha Mama juga yang telah menyayangiku, dan memberikan begitu banyak referensi.

Ketika aku sampai dirumah, aku segera melakukan rutinitasku seperti biasanya. Mencuci piring dan pakaian. Aku segera ke tempat Mama berjualan. Tapi ku lihat tidak ada satupun barang dagangan Mama. Mama juga tidak ada. Lantas Mama dimana? Dirumah tidak ada, di kantin juga tidak ada? Aku bingung. Lalu aku berinisiatif untuk menjemput adikku kesekolah. Kutunggu berjam-jam adikku tak keluar-keluar juga. Aku coba bertanya pada wali kelasnya. Kata gurunya, adikku sudah pulang sedari tadi. Aku semakin bingung dengan keadaan ini. Lantas aku putuskan untuk pulang saja, mungkin adikku sudah pergi main bersama mamaku atau apa.
Sesampainya aku dirumah, bibiku yang rumahnya tak jauh dari rumahku datang dan memberitahu bahwa mamaku tadi pagi kecelakaan. Mama dibawa ke Rumah Sakit daerah. Papa dan adikku sedari tadi sudah berada disana.

“Kami sudah mencoba menghubungimu nak, tapi handphone kamu sibuk.” Terang bibi menjelaskan.
“Aneh, padahal sedari tadi nomor Syifa gak di pakai apa-apa loh bi. Terus keadaan Mama sekarang gimana bi?” Tanyaku khawatir.
“Sebaiknya kamu cepat-cepat ke Rumah Sakit nak, keadaan mamamu sangat kritis” jawab bibi semakin membuatku ketakutan.
Perasaanku mulai kalut bercampur aduk dengan takut. Aku khawatir Mama kenapa-kenapa. Dengan motor butut papa, aku menyusul Mama di Rumah Sakit. Di perjalanan pun aku hampir menabrak tukang becak yang melintas tiba-tiba didepanku. Untung saja aku dapat menguasai kembali diriku yang kalut.
Saat aku sampai dirumah sakit, aku segera menghubungi papa dan menanyakan Mama dirawat diruangan apa? Setelah dijelaskan aku segera menyusul mereka. Ketika dari pintu salah satu ruangan pasien keluar seorang nenek yang tak lain adalah Omaku, aku pun mendekatinya. Oma menangis tersedu-sedu.
“Oma kenapa? Mama kenapa Oma? Mama baik-baik saja kan?” tanyaku semakin khawatir.
“Lihatlah sendiri nak, mamamu…” jawab Oma diteruskan dengan isak tangis yang semakin pilu.

Aku bergegas masuk dan melihat adik dan papaku juga menangis disana. Papa langsung memelukku. “Nak, mamamu sudah pulang. Syifa harus ikhlas yah…” ungkap papaku menenangkan.
Aku segera memeluk mamaku, aku belai wajahnya yang selalu lembut mendidikku. Aku masih tak mempercayai bahwa cobaan nan tak tertanggungkan ini menimpaku. adikku ikut memeluk mamaku dari arah yang berlawanan denganku. “Mama,…” Ucap adikku tertahan dan terus menangis.
“Mama, tahu gak Syifa sama Rara lolos ke babak selanjutnya loh. Kepala sekolah ngasih beasiswa lagi ke Syifa. Oh iya ma, Rara dapet trofi dan piagam penghargaan dari dinas pendidikan.Trofi ini Syifa persembahkan untuk Mama. Mama buka mata Mama dong. Lihat nih Trofinya bagus kan ma, baguskan? Mama bangun dong. Mama…” Ucapku sambil memeluk Mama. Aku tak sanggup lagi melanjutkan kata-kataku. Aku menagis sejadi-jadinya dan memeluk Mama erat-erat. Aku ingin sekali menunjukkan trofi ini untuk Mama. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Aku ingat betapa aku pernah mendurhakai Mama, betapa aku selalu menyusahkan mama, aku belum sempat membahagiakan mamaku tersayang. Tak ada Mama sehebat mamaku. Mama selalu sabar mendidik aku dan adikku yang kadang manjanya luar biasa. Mengingat semua itu aku tak sanggup lagi. Aku jatuh tak sadarkan diri.
Tahun ini adalah tahun ke-5 kepergian Mama, aku rindu sekali akan pelukan Mama. Lewat tulisan ini kukisahkan tentang mamaku, Mama yang selalu jadi pahlawan terhebat untuk aku, adikku dan juga papaku. Semoga Tuhan memberi ampunan atas dosa-dosa Mama didunia, dan senantiasa menempatkan mama disisi terbaik-Nya. Andai aku dapat meminta kemustahilan, aku akan minta Tuhan untuk hidupkan mamaku sekali lagi. Mama, I love you.


Eva Zulfiah Hasanah
Read More..

2013-02-07

TarPim dan Baitul Arqam


Assalamu alaikum wr. wb.
Insya Allah, Kegiatan selanjutnya dari IMM UNM yaitu TarPim (Upgrading) dan Baitul Arqam

Tempat : Benteng Somba Opu (Rumah Adat Takalar)
Waktu : Jum'at, 08 Februari 2013 - Minggu, 10 Februari 2013

Diharapkan kepada kakanda dan kader-kader lainnya dapat membantu dalam menyukseskan kegiatan kami ini.

Fastabiqul khaerat
wassalamu alaikum wr. wb.



Read More..

2013-01-27

Kampus Sebagai Institusi Pendidikan untuk Membangun Kesadaran Kritis dan Berpikir Kreatif

Jika ingin ditanya, sebuah pusat institusi yang sangat strategis mencetak generasi-generasi pembangun bangsa, maka itu adalah kampus. Kampus yang memang seyogianya dibangun pada institusi pendidikan tinggi, dapat mewadahi para penuntut ilmu yang berjiwa muda dalam mengembangkan jiwa kritis dan berpikir kreatif.
Mahasiswa sebagai salah satu objek pendidikan tinggi, yang terlihat lebih banyak  menjalankan peran sosialis dan realis, saat ini juga banyak kehilangan kesempatan dalam mengembangkan  potensi yang dimilikinya. 
Lembaga Kemahasiswaan           
            Sejak awal semester ganjil tahun lalu, ada yang kurang ketika kita berkunjung di salah satu fakultas di kampus oranye, UNM. Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) yang sejak saat itu kehilangan “nyawa”nya. Ada sekitar dua puluh lembaga kemahasiswaan (LK) dibekukan, karena adanya hasil keputusan rapat senat dan keputusan rektor yang juga men-drop out beberapa mahasiswa, akibat suatu kesalahan.
Tak tanggung, para aktvis kampus yang selama ini selalu bersumbangsih dan mencetak prestasi di kampus ini pun meradang. Sejuta bentuk protes dan kecaman pun muncul. Mereka tak menerima keputusan birokrasi yang menurut mereka adalah keputusan yang “menindas”. Tak ayal memang, ketika semenjak saat itu, kampus hanya dipandang berfungsi sebagai tempat proses belajar-mengajar saja.
Rasanya ada yang hilang ketika lembaga kemahasiswaan yang dulunya sebagai bagian dari kampus, tiba-tiba lenyap dan tidak lagi menunjukkan eksistensinya pada para kaum muda yang selalu haus akan ilmu. Tak ada lagi sebuah wadah yang membangkitkan dan merangsang secara intensif jiwa kreatifitas dan pikiran kritis mahasiswa.
Padahal jika diamati, lembaga kemahasiswaan adalah salah satu lembaga yang selama ini sangat berperan aktif mengolah dan menghasilkan kreatifitas dan jiwa kritis mahasiswa. Mengapa? Karena lembaga mahasiswa dengan tujuan dan keunikannya masing-masing, telah banyak memberikan pengetahuan nonformal kepada para anggotanya.
Kritis dan Kreatif
Kritis dan kreatif adalah hal penting yang dimiliki setiap lembaga kemahasiswaan. Lembaga kemahasiswaan umumnya dibentuk berdasarkan hal tersebut.
Memang, kesadaran kritis dan berpikir kreatif dikalangan kaum muda saat ini cukup intensif diciptakan. Kedua hal ini umumnya ditanamkan pada kaum muda yang aktif berkiprah pada organisasi. Sangat kurang peran kegiatan belajar mengajar dalam peningkatan dua kemampuan ini pada mahasiswa.
Tak heran jika mereka yang berstatus aktivis lebih condong menerapkan dua kemampuan ini dalam kegiatan dan pemikirannya sehari-hari. Bagi mereka, segala lini kehidupan sebaiknya berjalan sesuai yang diinginkan. Tidak ada yang merasa tertindas dan meninndas. Lebih tepatnya, konsep idealis yang dominan.
  Kesadaran kritis dan berpikir kreatif adalah dianggap modal lebih jika keduanya dimiliki seseorang. Kritis adalah hasil dan bentuk nyata dari proses berpikir kreatif. Kritis adalah suatu keadaan yang menggambarkan sikap tidak mudah menerima suatu keadaan ataupun pernyataan yang telah ada.
Sedangkan berpikir kreatif adalah proses kerja otak yang berdaya cipta, menemukan, dan menghasilkan. Orang-orang yang berpikir kreatif dianggap sebagai orang-orang yang mampu berpikir “diluar kotak” yang tidak seperti kebanyakan orang. Karena berpikir kreatif pula yang menyebabkan seorang yang tebiasa berpikir kreatif dapat dengan mudah memecahkan masalah (problem solving).
Kesadaran kritis merupakan sebuah modal utama yang harus dimiliki oleh mahasiswa. Mengapa? Sebab sikap “tidak mudah menerima” adalah sikap yang bisa memicu timbulnya perubahan karena adanya solusi-solusi yang bisa saja tercipta. Kesadaran kritis juga selalu dapat menuntut kebenaran ataupun hal yang tersembunyi pada sebuah realita.
Maka dengan mengasah kesadaran kritis dan berpikir kreatif mahasiswa, lingkungan kampus bisa saja diharapkan menjadi unsur penting dalam pengembangan kretifitas, nalar, dan segudang kemampuan mahasiswa.
Diharapkan pula, kampus bukan hanya dianggap sebagai tempat produksi akademik, namun pula menjadi sentral kegiatan mahasiswa yang mampu mengukir nama baik institusi (universitas), baik secara regional maupun secara nasional.
- Ismi Kurnia Dewi Istiani (Kabid IPTEK Pikom FBS IMM UNM)
Read More..

2013-01-24

Immawati untuk bangsa


Perempuan, realita dan gerakan

Sejarah telah mencatat bahwa perempuan merupakan salah satu satu kaum marginal. Faktanya dalam beberapa hal perempuan masih rentan dengan tindakan deskriminasi dan kekerasan. Perempuan masih rentan mengalami deskriminasi dalam tataran sosial, dan budaya di tambah dengan tafsiran agama yang cenderung bias. Selain itu akses perempuan khususnya perempuan desa dan daerah pedalaman, terhadap pendidikan dan kesehatan masih jauh dari harapan padahal kedua bidang ini merupakan kebutuhan asasi bagi perempuan tetapi ternyata  justru pendidikan dan kesehatan ini menjadi barang langka bagi sebagian kaum perempuan rendahnya pendidikan perempuan tentunya akan membawa dampak besar dalam kehidupanya kelak.  Perempuan yang hidup mandiri tanpa ada pendidikan akan rentan untuk menjadi buruh migrant, pabrik dan industri yang rentan mengalami kekerasan atau tidak jarang beberapa perempuan terjebak dalam kasus trafficking menjadi pekerja seks dan dieksploitasi.
Realitas perempuan sebagai kaum marginal juga di pengaruhi oleh mindset agama atau ideologi tertentu. Agama harusnya di tafsirkan lebih adil tetapi justru melanggengkan ketidakadilan bagi kaum perempuan padaha rasulullah sendiri adalah pejuang perempuan pertama di muka bumi  yang memperjuangkan perempuan di masanya dari belenggu arab jahiliyah di masanya. Spirit rasulullah yang memperjuangangkan perempuan inilah yang harus menjadi spirit bagi gerakan perempuan khususnya dalam konteks ini adalah immawati.

Ideologi gerakan perempuan

           Jika kita berbicara tentang ideologi maka tentu akan berbicara tentang paradigma gerakan perempuan. Dalam konteks gerakan perempuan secara global, nasional atau local masing-masing memiliki ideologi tersendiri dan inilah terkadang yang menjadi kendala dalam bersatunya gerakan perempuan (sisterhood). Dalam konteks global ada beberapa aliran feminis dunia antara lain feminis marxis sosialis yang lebih cenderung menganggap bahwa ketertindasan perempuan disebabkan karena budaya patriarki dan kapitalisme yang menjerat perempuan sehingga para feminis marxis-sosialis ini banyak melakukan advokasi para perempuan buruh dan isu pertanian dengan mengembalikan perempuan desa sebagai pengolah lahanya sendiri dan menolak teknologi pertanian karena dianggap  meminggirkan peran perempuan.  Ada lagi feminisme liberal yang memiliki kedekatan dengan ideologi liberalisme. Para feminis ini menganggap bahwa ketertindasan perempuan karena mereka sendiri yang tidak ingin meningkatkan kapasitas dirinya sehingga mereka mengajukan beberapa  regulasi untuk meningkatkan kapasitas perempuan. Dalam konteks global para feminis liberal mengajak perempuan untuk keluar rumah belerja pada sektor industri dan bersaing dengan laki-laki dan dalam konteks Indonesia memunculkan kebijakan kuota 30% untuk perempuan dalam politik sebagai langkah affirmative action untuk meningkatkan keterwakilan perempuan dalam politik sehingga akan mempengaruhi kebijakan politik supaya lebih sensitif gender. Selain itu dalam ada pula ideologi feminisme radikal yang lebih cenderung mengadvokasi isu-isu seksualitas seperti isu – isu LGBT.
                Dalam konteks gerakan immawati tentu saja immawati merupakan salah satu bagian dari gerakan perempuan. Immawati bukan hanya pelembagaan secara struktur perempuan Ikatan mahasiswa muhammadiyah tetapi juga melembagakan isu perempuan sebagai tujuan gerakanya.  Tetapi sampai saat ini saya melihat bahwa immawati masih bingung menentukan kemana arah gerakanya karena jika dalam konteks gerakan perempuan Indonesia, gerakan perempuan pun terbagi menjadi beberapa fraksi gerakan antara yang berideologi nasionalis, sosialis, radikal hingga gerakan feminis  nasionalis – religius. Bahkan dalam beberapa hal terjadi benturan gerakan perempuan sebut saja misalnya setelah pengesahan rancangan undang-undang pornografi dan pornoaksi terjadi benturan antara gerakan perempuan yang pro dan kontra, yang pro berasal dari jaringan gerakan perempuan yang berbasis agama dengan penafsiran tertentu  dan yang kontra adalah gerakan perempuan yang tergabung dalam beberapa NGO nasional. Benturan gerakan perempuan juga terjadi ketika ada beberapa daerah yang menegakkan syariat islam.  Hal ini menunjukkan bahwa kutub gerakan perempuan indoensia masih terbagi. Belum lagi dalam beberapa konteks tertentu dimana terjadi benturan ideologi gerakan.
                Aisyiyah sebagai ibu dari gerakan immawati tentu juga perlu menuai kritik karena hingga saat ini penulis belum melihat bahwa ada batasan yang jelas dimana letak gerakan perempuan muhammadiyah sebenarnya padahal usia aisyiyah saat ini sudah cukup matang karena merupakan organisasi perempuan pertama di Indonesia sehingga harusnya sudah mampu memetakan dengan jelas ideologi gerakan perempuan dan perempuan muhammadiyah memposisikan dirinya. Hal ini kemudian berefek  terhadap turunan gerakan perempuan muhammadiyah seperti NA, IPMawati dan IMMawati yang sepertinya kehilangan arah.  Padahal secara struktural gerakan perempuan ini menempati posisi strategis karena di dukung oleh organisasi besar seperti muhammadiyah. Penulis lebih memahami bahwa immawati sebagai gerakan putri mehammadiyah berbasis ideologi gerakan dari agama tetapi bagaimana menafsirkan agama itu sendiri menjadi peka terhadap isu perempuan tentunya menjadi tantangan tersendiri  agar gerakan immawati tidak terjebak pada kutub fundamental atau kutub liberal dalam menafsirkan agama itu sendiri.

Tantangan gerakan

Tantang terbesar dari gerakan immawati saat ini salah satunya karena kondisi internal immawati sendiri sebagai perempuan dan ketidakmampuan immawati memposisikan dirinya sebagai gerakan perempuan sehingga  tidak ada gerakan immawati yang massif.  Secara internal immawati terkadang masih minim  dalam memahami isu-isu gender sehingga berefek terhadap ada atau tidak adanya gerakan. Immawati masih di selubungi dengan isu gender yang menanggap bahwa perempuan harus di domestifikasi sehingga tidak ada gerakan secara eksternal padahal jutaan perempuan yang ada di luar sana  membutuhkan uluran tangan immawati untuk melakukan kegiatan pemberdayaan. Otokritik juga untuk gerakan perempuan bahwa terkadang yang menjadi inti dari gerakanya adalah gerakan kesetaraan padahal isu perempuan itu bukan hanya pada ranah itu tetapi yang terpenting saat ini adalah bagaimana melakukan pemberdayaan  pada ranah basis untuk menjauhkan perempuan dari kemiskinan, kekerasan dan tindakan diskriminatif lainya. Disinilah terkadangan kita salah  menafsirkan gender itu sendiri karena menganggap bahwa  gender itu adalah gerakan kesetaraan padahal  isu gender menyentuh pada semua aspek kehidupan perempuan.
                Tidak adanya kaderisasi dan regenerasi kepemimpinan pada level immawati menjadi tantangan terbesar gerakan immawati. Visi immawati yang tidak jelas akan menyebabkan gerakan immawati juga tidak jelas arahnya yang di perparah lagi dengan  krisisnya kaderisasi. Jika kita ingin melihat pada kacamata ideal maka visi gerakan yang di imbangi dengan kaderisasi menjadi dukungan yang kokoh bagi masifnya gerakan immawati.

Visi gerakan

Dalam konteks visi gerakan penulis mencoba menawarkan sebuah visi gerakan untuk immawati yakni immawati untuk bangsa. Visi ini merupakan sebuah perenuangan pasca mengikuti kegiatan bersama gerakan perempuan mahasiswa islam di cibubur jakara pada bulan September 2010. Kegiatan ini di hadiri selain oleh IMMawati DPP IMM juga di hadiri beberapa organisasi perempuan mahasiswa lainya pada ranah pusat. Cuma yang mengecawakan dari forum tersebut karena tidak adanya satu kata dalam rekomendasi yang di hasilkan sehingga penulis mencoba menyimpulkan sendiri kegiatan tersebut  setelah mengikuti lokakarya MBI yang di adakan oleh JASS SEA sebuah komunitas international untuk isu-isu perempuan. Dari berbagai forum tersebut penulis mencoba memetakan isu-isu gerakan perempuan secara global, nasional dan lokal. Maka isu gerakan immawati harus berada pada tataran nasional dengan memasukkan isu tentang keadilan gender, non deskrimintatif dan anti kekerasan terhadap perempuan dan kepemimpinan perempuan tetapi sebagai bagian dari gerakan immawati saya tidak berniat untuk memasukkan isu LGBT (lesbian, gay, biseksual dab transgender) sebagai isu gerakan seperti para feminis radikal karena isu itu memerlukan kajian yang cukup panjang dan mendalam.
Visi gerakan perempuan untuk mengawal isu  perempuan  tentunya harus di dukung oleh kegiatan kaderisasi yang di breakdown hingga level komisariat. Sayang sekali pengkaderan formal seperti pendidikan khusus immawati yang pernah di gagas  sebagai pengkaderan non formal diluar pengkaderan formal seperti DAD  itupun kini jarang di adakan bahkan hanya beberapa DPD saja yang mengadakan. Mungkin DPD atau cabang yang lain juga mengadakan kegiatan yang sama dengan nama berbeda yang penting bahwa kegiatan yang seperti ini harus di lakukan minimal untuk mengubah mindset immawati tentang perempuan dan mem breakdown visi kepemimpinan immawati sehingga terwujud kemandirian immawati karena sesungguhnya  kepemimpinan bukan hanya identik dengan politik dan kekuasaan tetapi  kepemimpinan adalah pengambilan keputusan atas dirinya sendiri dan kehidupanya.
Visi gerakan immawati untuk bangsa sebagai refleksi bahwa immawati juga harus berperan dalam persoalan kebangsaan dan kenegaraan ditengah kuatnya arus putaran globalisasi dan ideologi neoliberalisme yang terus mencengkram perekonomian dan aspek-aspek kehidupan bangsa. Dalam menggapai visi ini immawati  tidak boleh larut dalam dalam sistem yang membelenggu ini. Immawati menjadi pasif dan jusrtru menjadi penikmat dan mengikuti budaya konsumerisme  terhadap berbagai produk-produk kapitalisme  sehingga semakin melanggengkan sistem ini. Kembalilah ke khittah perjuangan muhammadiyah yakni memperjuangkan hak-hak kaum mustadafin dan perempuan yang tidak berdaya juga merupakan bagian dari kaum itu. Jaya terus gerakan immawati
Fastabiqul khaerat…

>Immawati  Neni Yusnaeni 
Kabid immawati DPD IMM sulawesi selatan 2009-2010 
Kabi keilmuan DPD IMM Sulawesi selatan 2010-2011
Read More..