Ads 468x60px

Sample text

Sample Text


2013-01-21

Paradigma Profetik Kuntowijoyo

 Interpretsi atas Kata Pengantar A. E. Priyono dalam Buku “Paradigma Islam”
Zulfikar Hafid (Ketua Umum Pimpinan Komisariat IMM FBS UNM 2013/3014)

Paradigma Kuntowijoyo bahwa Islam merupakan etika profetik bersumber dari pengkajian doktrin-doktrin pokok Islam yang konvensional, yaitu Penyatuan Allah dan penyatuan Manusia (Tauhid) serta tugas muslim amar ma’ruf nahi munkar wa tumani’na billah yang ditafisrkan oleh Kuntowijoyo sebagai tindak humanisasi, liberasi dan transendensi .
Menurut Kuntowijoyo, doktrin-doktrin pokok konvensional Islam tersebut sebenarnya merupakan nilai-nilai universal bagi seluruh manusia, begitu pun dengan doktrin-doktrin lainnya.  Hal ini sesuai dengan firman Allah bahwa Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin.
Namun sayang, doktirn-doktrin pokok konvensional tersebut yang merupakan etika profetik yang universal selalu dihambat oleh muslim yang eksklusif dan subjektif sehingga Islam yang mengandung nilai-nilai universal menjadi partikular: hanya untuk Muslim.
Eklusfikasi dan Subjektifikasi  nilai-nilai universal Islam dilakukan dengan penggunaan tunggal metode tafsir yang kaku. Faktor eksklusifikasi dan subjektifikasi Islam lainnya adalah  mistifikasi dan pengideologian Islam. Sehingga Islam menjadi seakan-akan sangat gaib dan seakan-akan hanya untuk yang gaib atau tidak manusiawi (sama sekali tidak dapat diilmiahkan).
Oleh karena itu, Kuntowijoyo berpendapat bahwa objektifikasi dan universalisasi Islam membutuhkan perangkat ilmiah yaitu Ilmu Sosial Profetik. Ilmu Sosial Profetik akan menjadikan pengetahuan dan atau pemikiran muslim berbasiskan ilmu dan jauh dari Islam yang mistis dan ideologis.
Islam yang mistis (gaib) dan ideologis yang melulu melatari segala pikir dan tindak muslim sehingga muslim menjadi cenderung mistis dan melulu hanya meng-Islamkan segala sesuatu, termasuk ilmu pengetahuan ditentang oleh Kuntowijoyo. Kuntowijoyo lebih condong pada pengilmuan Islam yaitu Islam dijabarkan menjadi ilmu-ilmu sehingga Islam tidak mistis dan menjadi manusiawi (ilmiah). Kuntowijoyo berpendapat bahwa dengan pengilmuan Islam, konsep-konsep normatif-subjektif Islam dijabarkan atau diuraikan menjadi formulasi-formulasi empiris-objektif yang terbuka, inklusif, dan universal.
Kuntowijoyo berpendapat bahwa pengilmuan Islam tidak melakukan penghakiman halal-haram melainkan memanfaatkan pengetahuan dari khazanah lain untuk memahami kandungan normatif Islam. Hal ini justru akan menjadikan Muslim sebagai umat Islam yang sebenar-benarnya, sehingga umat Islam (muslim) bisa melakukan transformasi sosial yang merupakan tujuan dari keprofetikan ini.

No comments:

Post a Comment