Jika ingin ditanya,
sebuah pusat institusi yang sangat strategis mencetak generasi-generasi
pembangun bangsa, maka itu adalah kampus. Kampus yang memang seyogianya
dibangun pada institusi pendidikan tinggi, dapat mewadahi para penuntut ilmu yang
berjiwa muda dalam mengembangkan jiwa kritis dan berpikir kreatif.
Mahasiswa sebagai salah
satu objek pendidikan tinggi, yang terlihat lebih banyak menjalankan peran sosialis dan realis, saat
ini juga banyak kehilangan kesempatan dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya.
Lembaga
Kemahasiswaan
Sejak
awal semester ganjil tahun lalu, ada yang kurang ketika kita berkunjung di
salah satu fakultas di kampus oranye, UNM. Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) yang
sejak saat itu kehilangan “nyawa”nya. Ada sekitar dua puluh lembaga
kemahasiswaan (LK) dibekukan, karena adanya hasil keputusan rapat senat dan
keputusan rektor yang juga men-drop out
beberapa mahasiswa, akibat suatu kesalahan.
Tak tanggung, para
aktvis kampus yang selama ini selalu bersumbangsih dan mencetak prestasi di
kampus ini pun meradang. Sejuta bentuk protes dan kecaman pun muncul. Mereka
tak menerima keputusan birokrasi yang menurut mereka adalah keputusan yang
“menindas”. Tak ayal memang, ketika semenjak saat itu, kampus hanya dipandang
berfungsi sebagai tempat proses belajar-mengajar saja.
Rasanya ada yang hilang
ketika lembaga kemahasiswaan yang dulunya sebagai bagian dari kampus, tiba-tiba
lenyap dan tidak lagi menunjukkan eksistensinya pada para kaum muda yang selalu
haus akan ilmu. Tak ada lagi sebuah wadah yang membangkitkan dan merangsang
secara intensif jiwa kreatifitas dan pikiran kritis mahasiswa.
Padahal jika diamati,
lembaga kemahasiswaan adalah salah satu lembaga yang selama ini sangat berperan
aktif mengolah dan menghasilkan kreatifitas dan jiwa kritis mahasiswa. Mengapa?
Karena lembaga mahasiswa dengan tujuan dan keunikannya masing-masing, telah
banyak memberikan pengetahuan nonformal kepada para anggotanya.
Kritis
dan Kreatif
Kritis dan kreatif
adalah hal penting yang dimiliki setiap lembaga kemahasiswaan. Lembaga
kemahasiswaan umumnya dibentuk berdasarkan hal tersebut.
Memang, kesadaran
kritis dan berpikir kreatif dikalangan kaum muda saat ini cukup intensif
diciptakan. Kedua hal ini umumnya ditanamkan pada kaum muda yang aktif
berkiprah pada organisasi. Sangat kurang peran kegiatan belajar mengajar dalam
peningkatan dua kemampuan ini pada mahasiswa.
Tak heran jika mereka
yang berstatus aktivis lebih condong menerapkan dua kemampuan ini dalam
kegiatan dan pemikirannya sehari-hari. Bagi mereka, segala lini kehidupan
sebaiknya berjalan sesuai yang diinginkan. Tidak ada yang merasa tertindas dan
meninndas. Lebih tepatnya, konsep idealis yang dominan.
Kesadaran kritis dan berpikir kreatif adalah
dianggap modal lebih jika keduanya dimiliki seseorang. Kritis adalah hasil dan
bentuk nyata dari proses berpikir kreatif. Kritis adalah suatu keadaan yang menggambarkan
sikap tidak mudah menerima suatu keadaan ataupun pernyataan yang telah ada.
Sedangkan berpikir
kreatif adalah proses kerja otak yang berdaya cipta, menemukan, dan
menghasilkan. Orang-orang yang berpikir kreatif dianggap sebagai orang-orang yang
mampu berpikir “diluar kotak” yang tidak seperti kebanyakan orang. Karena
berpikir kreatif pula yang menyebabkan seorang yang tebiasa berpikir kreatif
dapat dengan mudah memecahkan masalah (problem
solving).
Kesadaran kritis
merupakan sebuah modal utama yang harus dimiliki oleh mahasiswa. Mengapa? Sebab
sikap “tidak mudah menerima” adalah sikap yang bisa memicu timbulnya perubahan
karena adanya solusi-solusi yang bisa saja tercipta. Kesadaran kritis juga
selalu dapat menuntut kebenaran ataupun hal yang tersembunyi pada sebuah
realita.
Maka dengan mengasah
kesadaran kritis dan berpikir kreatif mahasiswa, lingkungan kampus bisa saja
diharapkan menjadi unsur penting dalam pengembangan kretifitas, nalar, dan
segudang kemampuan mahasiswa.
Diharapkan pula, kampus
bukan hanya dianggap sebagai tempat produksi akademik, namun pula menjadi
sentral kegiatan mahasiswa yang mampu mengukir nama baik institusi
(universitas), baik secara regional maupun secara nasional.
- Ismi Kurnia Dewi Istiani (Kabid IPTEK Pikom FBS IMM UNM)