Salam amanah! Bagaimana nilai (angka) hasil
pergulatan dan emosi Anda selama satu semester yang telah dilalui baru-baru
ini? Berhasilkah cum laude tersandung?
Semoga hasil yang Anda peroleh (pantas) membanggakan dan mampu
dipertanggungjawabkan.
Satu lagi lekatan atau sematan yang agung diletakkan
atau disematkan kepada sosok Mahasiswa setelah lekatan “Maha” yang sebenarnya
hanya milik Allah Yang Mahabaik. Lekatan atau sematan agung itu adalah
‘intelektual’. Entah pelekatan, penyematan, atau identifikasi tersebut sudah
tepat ataukah merupakan kekeliruan?
Jika hal tersebut merupakan kekliruan, mungkin
kekeliruan tersebut karena pelekatan, penyematan, atau identifikasi tersebut
merupakan sebuah overgenaeralisasi yang bias dan kebablasan. Mungkin juga
identifikasi tersebut sebenarnya adalah sebuah harapan. Harapan umat manusia
kepada mahasiswa agar mahasiswa menjadi intelektual.
Kuntowijoyo (dalam Sani, 2011:39) mengatakan bahwa intelektual
bukanlah seseorang yang berjalan di atas mega, pemikirannya melangit, bukan
juga seseorang yang tinggal menara gading dan tidak menapak di bumi dan
tercabut dari akar-akar sosialnya. Pernyataan tersebut bermaksud intelektual
adalah seseorang yang peduli dengan realitas masyarakat dan menjadi solusi atau
patologi-patologi sosial kemasyrakatan seperti penindasan atas kaum mustadh ‘afiin.
Melalui paradigma Kuntowijoyo tersebut sudah dapat
diketahui bahwa penyematan atau identifikasi intelektual pada sosok kita
sebagai mahasiswa adalah sebuah kekeliruan atau prasangka baik tersebut adalah
harapan untuk dicapai.
Realitas atau idealitas yang dipaparkan oleh
Kuntowijoyo di kalangan mahasiswa saat ini sangat jauh berbeda, jumlah mahasiswa
yang pusing karena mencari cara atas pemecahan masalah-masalah sosial
kemasyarakatan sangat sedikit disbanding dengan mahasiswa yang pusing
memikirkan cara mendapatkan nilai “A” untuk semua mata kuliah, atau pusing
memikirkan cara berpenampilan modis sesuai zaman.
Mahasiswa sebagai intelektual bagai jauh panggang
dari api. Mahasiswa mungkin saat ini terjebak dengan anggapan kesamaan konsep
atau sinonimi atanara intelektual dan orang yang sekedar pintas secara
akademisi.
Sebagai bahan agar perenungan menjadi semakin
panjang dan mendalam, berikut ini dipaparkan beberapa konsep intelektual yang
arah orientasinya mirip, namun dengan bahasa yang berbeda dan tingkat (potensi)
daya penggugahan dan penyadaran yang berbeda.
Rakhmat (1993:150) mengatakan bahwa intelektual
bukan sarjana yang hanya menunjukkan kelulusan dari pendidikan tinggi.
Intelektual juga bukan ilmuan yang hanya mendalami dan mengembangkan ilmu
dengan penalaran dan penelitian. Intelektual sejati adalah orang-orang yang
merasa terpanggil untuk mengubah masyarakat dengan mendengar aspirasi dan
menerjemahkan aspirasi masyarakat tersebut dalam bahasa yang dapat dipahami
oleh setiap orang. Beliau juga mengungkapkan bahwa intelektual sejati juga
menawarkan strategi dan alternatif atas pemecahan masalah masyarakat.
Selain itu, Kuntowijoyo yang terkenal dengan
pemikiran konsep intelektual profetik yang berpilar pada humanisasi, liberasi,
dan transdensi. Intelektual profetik adalaj intelektual dengan semangat
kenabian yang mengusung memanusiakan manusia (humanisasi), pembebasan diri
(liberasi), dan penjalinan hubungan yang harmonis dengan Ilahi (transendensi)
sesuai dengan doktrian agama yaitu, amar
ma’ruf nahi munkar dan tuma’nina
billah. Misi intelektual profetik sesuai dengan misi profetik agama, yaitu
ternsformasi sosial yang sesuai dengan cita-cita sosial Islam. Sesuai dengan
firman Allah swt. Dalam surah Ali-Imran: 110:
“Kamu
adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang
makruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.”
(QS. Ali-Imran:110)
Oleh karena
itu, mari berusaha menjadi intelektual sejati. Mari bersama-sama berusaha
menjadi orang berilmu yang tidak seakan-akan hanya hidup sendiri dan tinggal
dilingkungan yang baik-baik saja. Mari bersama-sama berusaha resah atas derita
saudara kita yang sama terlahir dengan kasih Ilahi. Mari menjadi intelektual
sejati: ulil albab, khairu ummah.
“Kerja
intelektual adalah kerja seumur hidup, itupun tidak akan pernah tuntas dan
memuaskan. Ada saja yang kurang, ada saja yyang tidak genap. Yang pasti, kerja
intelektual memerlukan kesabaran dosis tinggi untuk terus berpikir dan berpikir
terus dengan stamina spiritual yang prima. Di lingkungan yang sedang membusuk
secara spiritual-intelektual, tingkat kesabaran itu perlu dinaikkan ke tingkat
lebih atas tanpa bosan. Kerja semacam ini jelas tidak mudah, tidak seperti
kerja demonstrasi yang lantang berteriak. Seorang intelektual idealnya juga
adalah rumah kearifan, tempat orang bertanya mengenai masalah-masalah besar
yang menyangkut kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan dalam arti yang luas.”
(Buya Ahmad Syafi’i Ma’arif, 2007)
(Buya Ahmad Syafi’i Ma’arif, 2007)
- Immawan Zulfikar Hafid (Pikom FBS UNM)-