Ads 468x60px

Sample text

Sample Text


2013-04-12

“Assalamu alaikum Mahasiswa Cerdas! Mari Belajar Menjadi Seorang Intelektual!”


Salam amanah! Bagaimana nilai (angka) hasil pergulatan dan emosi Anda selama satu semester yang telah dilalui baru-baru ini? Berhasilkah cum laude tersandung? Semoga hasil yang Anda peroleh (pantas) membanggakan dan mampu dipertanggungjawabkan.
Satu lagi lekatan atau sematan yang agung diletakkan atau disematkan kepada sosok Mahasiswa setelah lekatan “Maha” yang sebenarnya hanya milik Allah Yang Mahabaik. Lekatan atau sematan agung itu adalah ‘intelektual’. Entah pelekatan, penyematan, atau identifikasi tersebut sudah tepat ataukah merupakan kekeliruan?
Jika hal tersebut merupakan kekliruan, mungkin kekeliruan tersebut karena pelekatan, penyematan, atau identifikasi tersebut merupakan sebuah overgenaeralisasi yang bias dan kebablasan. Mungkin juga identifikasi tersebut sebenarnya adalah sebuah harapan. Harapan umat manusia kepada mahasiswa agar mahasiswa menjadi intelektual.
Kuntowijoyo (dalam Sani, 2011:39) mengatakan bahwa intelektual bukanlah seseorang yang berjalan di atas mega, pemikirannya melangit, bukan juga seseorang yang tinggal menara gading dan tidak menapak di bumi dan tercabut dari akar-akar sosialnya. Pernyataan tersebut bermaksud intelektual adalah seseorang yang peduli dengan realitas masyarakat dan menjadi solusi atau patologi-patologi sosial kemasyrakatan seperti penindasan atas kaum mustadh ‘afiin.
Melalui paradigma Kuntowijoyo tersebut sudah dapat diketahui bahwa penyematan atau identifikasi intelektual pada sosok kita sebagai mahasiswa adalah sebuah kekeliruan atau prasangka baik tersebut adalah harapan untuk dicapai.
Realitas atau idealitas yang dipaparkan oleh Kuntowijoyo di kalangan mahasiswa saat ini sangat jauh berbeda, jumlah mahasiswa yang pusing karena mencari cara atas pemecahan masalah-masalah sosial kemasyarakatan sangat sedikit disbanding dengan mahasiswa yang pusing memikirkan cara mendapatkan nilai “A” untuk semua mata kuliah, atau pusing memikirkan cara berpenampilan modis sesuai zaman.
Mahasiswa sebagai intelektual bagai jauh panggang dari api. Mahasiswa mungkin saat ini terjebak dengan anggapan kesamaan konsep atau sinonimi atanara intelektual dan orang yang sekedar pintas secara akademisi.
Sebagai bahan agar perenungan menjadi semakin panjang dan mendalam, berikut ini dipaparkan beberapa konsep intelektual yang arah orientasinya mirip, namun dengan bahasa yang berbeda dan tingkat (potensi) daya penggugahan dan penyadaran yang berbeda.
Rakhmat (1993:150) mengatakan bahwa intelektual bukan sarjana yang hanya menunjukkan kelulusan dari pendidikan tinggi. Intelektual juga bukan ilmuan yang hanya mendalami dan mengembangkan ilmu dengan penalaran dan penelitian. Intelektual sejati adalah orang-orang yang merasa terpanggil untuk mengubah masyarakat dengan mendengar aspirasi dan menerjemahkan aspirasi masyarakat tersebut dalam bahasa yang dapat dipahami oleh setiap orang. Beliau juga mengungkapkan bahwa intelektual sejati juga menawarkan strategi dan alternatif atas pemecahan masalah masyarakat.
Selain itu, Kuntowijoyo yang terkenal dengan pemikiran konsep intelektual profetik yang berpilar pada humanisasi, liberasi, dan transdensi. Intelektual profetik adalaj intelektual dengan semangat kenabian yang mengusung memanusiakan manusia (humanisasi), pembebasan diri (liberasi), dan penjalinan hubungan yang harmonis dengan Ilahi (transendensi) sesuai dengan doktrian agama yaitu, amar ma’ruf nahi munkar dan tuma’nina billah. Misi intelektual profetik sesuai dengan misi profetik agama, yaitu ternsformasi sosial yang sesuai dengan cita-cita sosial Islam. Sesuai dengan firman Allah swt. Dalam surah Ali-Imran: 110:
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.”
(QS. Ali-Imran:110)
  Oleh karena itu, mari berusaha menjadi intelektual sejati. Mari bersama-sama berusaha menjadi orang berilmu yang tidak seakan-akan hanya hidup sendiri dan tinggal dilingkungan yang baik-baik saja. Mari bersama-sama berusaha resah atas derita saudara kita yang sama terlahir dengan kasih Ilahi. Mari menjadi intelektual sejati: ulil albab, khairu ummah.
“Kerja intelektual adalah kerja seumur hidup, itupun tidak akan pernah tuntas dan memuaskan. Ada saja yang kurang, ada saja yyang tidak genap. Yang pasti, kerja intelektual memerlukan kesabaran dosis tinggi untuk terus berpikir dan berpikir terus dengan stamina spiritual yang prima. Di lingkungan yang sedang membusuk secara spiritual-intelektual, tingkat kesabaran itu perlu dinaikkan ke tingkat lebih atas tanpa bosan. Kerja semacam ini jelas tidak mudah, tidak seperti kerja demonstrasi yang lantang berteriak. Seorang intelektual idealnya juga adalah rumah kearifan, tempat orang bertanya mengenai masalah-masalah besar yang menyangkut kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan dalam arti yang luas.”
(Buya Ahmad Syafi’i Ma’arif, 2007)


- Immawan Zulfikar Hafid (Pikom FBS UNM)-
Read More..